16 Juli 2009

Kasih Teruntuk Bintang

Damaikan selalu hati ini
Seorang pujangga malam
Hangatkan hari sepiku
Yang dahulu kian membeku

Sambut pagi cerahku
Temani siang terangku
Antarkan setiap tidurku
Bahagiakan saat sedihku
Ingatkan saat salahku

Dialah bintang biruku
Yang selalu ada disisiku
Bersama arungi samudra kasih
Bahagiakan rasa terkasih
Hanya inilah ku dapat kasihkan
Terima kasih untuk yang kukasih,
Bintang kekasihku...

13 Juli 2009

Yang ku rasa hari ini:

Sedih,
Muram,
Sakit,
Mual,
Sepi,
Kangen..

11 Juni 2009

Dua Hari Penantian

Gelitik kecil meresahkan raga
Dalam penantian yang tertunda
Enam musim tlah berakhir
Lewati tawa maupun nestapa
Akankah terhenti atau terus berlari?

Ku ingin terus berlari
Lewati segala rintang melintang
Mengejar segala cinta dan mimpi
Izinkan aku Oh Tuhan
Beri hamba kesempatan

Dua hari tiada lama
Meski ragu tapi percaya
Hanya doa yang kan membawa
Raga dan segala cita
Biarlah waktu yang berkata

04 Juni 2009

Bila Hilang, Muram..

Malam ini tak pejam mata Bulan
Hati tak tenang bukan kepalang
Terombang ambing terbuai lautan
Bagai kerang terhempas gelombang
Mungkin akan terpejam Bulan
Bila kalanya rindu kan datang

Tak sebatang Bulan menerawang
Dalam malam berawan hitam
Tak nampak harum senyum Bintang
Meski rindu kan tetap muram
Kan tertunggu bilang tenang
Meski mata kian terpejam

Dengarlah Bulan semakin sumbang
Tangga nada kembali bungkam
Nyanyiannya tak jua terang
Kian malam kian bergumam
Bila hilang..
Maka muram..

03 Juni 2009

Balada Gosip Hewani

Kemarin semut mengikik gelitik
Dengar kuda cerita menggoda
Katanya kambing selingkuh dengan kera
Heranlah semut sambil kembali terkikik
Terbersit membukti gosip yang aduhai
Lalu tak berapa lama
Semut tibalah pada kambing
Mbing, katanya
Apakah kau mendua pada kera kerontang?
Tanya semut mengikik
Kambinglah kagetnya
Ditendanglah semutnya
Hingga lepaslah kupingnya
Tak bisalah dengar lagi cerita dusta
Perselingkuhan antara kambing pada kera
Makanya, kata si kambing pada pembaca
Andaikan kuda menggonggong janganlah hirau keberadaannya

30 Mei 2009

Bulan Dua Kenal Dia

Dialah sepercik cahaya
Birulah nampaknya
Berkerlip jauh di angkasa
Dalam bimasakti berlaga

Pucuk bulan tiba
Bulan dua Bulan kenal dia
Tanpa makan basi minum basa
Ada kurasa permata di ujung mata

Dalam lubuk bercita
Dalam hati berangan
Dalam pikir bersuka
Dalam harap Bulan

Tidak sehalus sutra
Tidak semanis gula
Tidak sekokoh tembok cina
Tapi ku cinta Dia..

22 Mei 2009

Pulang ke Kota Kecil Rumahku

Kala itu matahari kembali kan pulang. Aku memandang semburat sinar merona merah di balik perbukitan tua. Burung-burung pipit hendaklah kembali ke sarang. Terbang melayang di atas kepalaku. Ayam hitam mulai menutup kandang. Menutup hari dengan sepiring jagung kering. Jalanan mulai kosong dan renggang. Hanya derap langkah rodaku yang terdengar menggema mengusik pepohonan sepi. Angin berlumur debu menari bersama daun kering menyapu pandanganku. Sesaat menampar pipiku halus namun menusuk mataku perih. Harum aroma jahe membumbung saat ku lalui bangunan tua nan legam. Asap dimana-mana namun pekerja tetap setia pada sang gulali penyambung nyawa. Pabrik permen jahe itu tetap meroda meski malam kan tiba. Masih ku pacu laju kendaraanku pelan. Ingin ku nikmati sore nan syahdu di kota nan kecil ini. Perumahan mungil semi modern berjajar di sela rumah-rumah nan renta. Seolah ingin tunjukkan, "Lihat! Aku dapat hidup di hamparan rumah tua ini!". Di hadapannya berdiri rumah sakit tua yang sepi. Kolamnya kering, catnya mengelupas, bahkan gerbangnya tertutup sebelah. Satu dua motor tampak terpaku di tempat parkir yang berdebu. Hanya lampu jalan putih terang yang seolah hidup disana. Menerangi sebagian jalan yang buta. Rumah sakit itu terus begadang, karena banyak orang menggantungkan hidup disana.
Jalan lurus menanjak menantangku di depan mata. Ku masukkan gigi dua agar kuat sampai di atas sana. Di sebelah kiri ku lihat pak tua berjenggot lebat tengah memandangku tajam. Bukan, bukan memandangku, namun mencari sesuap nasi di jalanan sepi. Tukang ojek bersama motor tuanya itu mengamati jalanan yang renggang hendak mencari penumpang yang akan memberi keluarganya kehidupan. Hidupnya pastilah tidak semudah anggukan ramahnya pada setiap orang yang ia pandang. Malam menjelang, namun ia masih bekerja.
Tak jauh, hamparan sawah nan hijau serasa meliuk-liuk seiring laju angin nan syahdu. Tiba-tiba seorang nenek renta tengah menyeberang jalan tanpa menoleh kanan kiri. Ku hanya amati dia. Tak tega menyalahkannya atas apa yang telah ia perbuat. Jalannya yang pincang tak hiraukan beban di pundaknya yang berat. 10, 20, mungkin 30 kilogram beban yang ia pikul. Ya, mungkin rumput dan sabit adalah teman hidupnya. Nenek tua pulang membawa kabar gembira pada anak cucunya. "Lihat, nenek dapat banyak rumput untuk kambing kita". Begitu pikirku.
Perjalanan pulang saat itu sedikit memberiku ilham. Betapa keras perjuangan orang tua kita demi sesuap nasi pengganjal nyawa. Keikhlasanlah yang mereka miliki untuk menghidupi kita, buah hati mereka. Hendak ku meneteskan air mata. Mengapa aku sering lupa, pada perjuangan mereka. Bodohnya aku yang masih muda ini. Harusnya aku belajar lebih keras paling tidak untuk membahagiakan mereka.
Terus aku melenggang kangkung dalam satu kilometer jalan menuju rumahku. Aku bagai melaju di gurun dingin yang gelap. Tiada seorangpun teman bersama. Hanya dua roda yang setia. Bersama desiran angin yang berdansa. Tak sabar aku pulang ke dambaan keluarga. Ku percepat laju rodaku. Hingga sampai di sebuah gapura nan bercahaya. Meski rumput liar menggerogoti fondasinya, namun tetap berdiri kokoh menantang jalan raya. Ku sikukan rodaku, berbelok tajam ke arah kanan. Ku lewati gang aspal yang mulai gelap. Senyum tetangga menghangatkan badanku yang membeku karena udara jalanan. Tawa riang anak kecil bercanda gurau di perempatan gang yang menyilaukan. Akhirnya tibalah aku di sebuah rumah kecil yang begitu hangat. Beringin tua kecil di hadapannya mengingatkanku pada masa kecilku di rumah ini. Pagar hijaunya menyegarkan pikiranku. Semerbak wangi lavender mengharumkan penciumanku. Liuk tanaman yang mengelilingi rumah serasa menyambutku bahagia. Lampu neon yang tua itu baru saja ibu hidupkan saat ku tiba di muka rumah. Ku matikan mesin rodaku. Ku sandarkan ia di atas paving merah muda nan kian menghitam. Di muka rumah nampak senyum hangat adikku menyapaku rindu. Tawa tengilnya menghilangkan segala dahaga. Di ruang tamu, sapa orang tuaku meruntuhkan segala kecapaian yang ku bawa usai menuntut ilmu. Hanya bahagia yang kurasa saat itu. Akhirnya aku tiba ke rumahku yang hangat akan kasih sayang, sebuah keluarga besar nan bahagia. Di dalam rumah kecil yang damai. Selamanya...

21 Mei 2009

Dua Belas Aku Terjaga

Malam nan sepi sendu
Tak dapat pejamkan aku
Dua bola mata nan sayu
Basah akan kisah haru
Resah akan harap palsu

Kupandang silau di tengah ruang
Dengan tatap hampa aku bersidang
Hanyut kah dalam kasih yang rindang
Atau tenggelam kah dalam cinta bersendang
Kepada sayang aku telah meradang

Dua belas aku terjaga
Masihlah lelap tak bisa
Pikirku padamu tak juga sirna
Meski kututup bingkai lama
Hinggap kembali di alam maya

20 Mei 2009

Pintaku Pada-Nya

Ya Allah,,
Jagalah dia..
Biarkan sinarnya selalu terangi angkasa. Berikan sepercik warna antara kehampaan malam. Tebarkan kebahagiaan antara lautan bintang. Sisipkan sepenggal senyuman lirih di kesunyian.

Jagalah dia yang mungkin rapuh. Oleh keraguan atau keputusasaan. Berikan hanya orbit-Mu yang terindah. Jangan putuskan jalannya yang silau. Ku hanya ingin ia selalu bahagia. Meski entah kami tak bisa bersama.

Jagalah dia, pelita petang nan benderang. Hangatkan jiwa kala datang kebekuan. Nyanyikan melodi riang kala terdiam. Beri keteduhan kala tersilaukan dunia.

Jagalah dia, pintaku pada-Mu yang hanya bisa kuberikan, Kepada dia, dia yang aku sayang...

14 Mei 2009

Dua Kawan Lama

Dua kawan lama
Tak bercakap lama
Dua waktu lama
Hilang pun lama
Lupa pun lama
Risau pun lama
Sedih pun lama
Namun canda lama
Senang pun lama
Bahagia pun lama
Curahan hati lama
Biarpun telah lama
Tapi cinta lama
Dua kawan lama
Datang tak lama
Di hati lama
Selalu selamanya lama